Unforgatable Moment Part 1

Malam itu Noni benar-benar tak bisa memejamkan matanya sepicing pun! Dia gelisah, tak sabar menunggu pagi. Pun tak sabar ingin segera melihat seperti apa papanya menyulap sepeda kesayangannya untuk dia tampil dalam lomba sepeda hias besok pagi. Noni tak tahu entah sudah pukul berapa saat itu, yang ia tau pasti sudah sangat larut. Dilihatnya lampu petromak di ruang keluarga masih menyala, karena cahayanya yang masih terang benderang itu menembus lubang-lubang kecil di dinding kamarnya, pertanda papanya masih terus bekerja menghiasi sepedanya. Ingin ia mengintip, tapi urung dilakukannya. Dia ingin, menyaksikan sepeda kesayangannya sudah terhias dengan indah besok pagi, adalah sebuah kejutan baginya.

“Hhhhhh….”

Untuk kesekian kalinya Noni mendesah resah, dan untuk kesekian kalinya pula dia membolak balikkan badannya. Miring kekanan, miring kekiri, tengkurap, miring lagi ke kanan, pokoknya bolak balik seperti pisang yang sedang di goreng di penggorengan. Tapi sejurus kemudian teringat oleh nya,

“Apa papa tidak mengantuk ya? Jam segini masih saja terus bekerja menghiasi sepedaku”

Noni membatin

“Mungkin sebaiknya aku keluar saja, siapa tau papa butuh teman untuk mengusir rasa kantuknya,”

Noni terus membatin, dan ia pun tak bisa menahan lagi, akhirnya Noni bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamar.

“Lho…. anak papa belum tidur ternyata?”

Papa kaget melihat Noni muncul di depan pintu kamarnya

“Gak bisa tidur pa, gak sabar menunggu besok pagi”

Jawab Noni sambil mengucek-ngucek matanya yang silau terkena terpaan cahaya lampu.

“Gak sabar menunggu besok pagi apa penasaran pengen liat seperti apa sepedamu, hmm…?”

Papa menggoda Noni, membuat ia jadi sumringah, terlebih menyaksikan sepeda kesayangannya sudah hampir selesai di hias. Begitu elok hiasannya. Papa membuat sayap seperti kupu-kupu di kedua sisinya, sungguh indah! membuat Noni takjub melihatnya. Tak disangka ternyata papanya sangat terampil.

“Wahhhhh…. cantik sekali sepeda Noni jadinya pa!”

Noni tak kuasa membendung rasa kagumnya menyaksikan hasil kreasi papanya. Parasnya seketika berubah begitu menyaksikan sepeda kesayangannya telah disulap. Matanya tampak berbinar-binar di timpa cahaya lampu petromak yang mulai meredup, karena minyak tanah yang jadi bahan bakarnya telah menyusut. Padahal aslinya sepedanya itu hanya sepeda biasa. Sepeda bekas murah yang dibelikan papa sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-10. Tapi papa mampu menyulapnya menjadi sepeda yang sangat indah! Dengan sayap di kedua sisi kiri dan kanannya, sepeda itu tampak seperti sepeda yang pantas dikendarai oleh bidadari.

“Gimana…?? kamu suka dengan hiasannya kan?”

“Tentu saja pa, seperti sepeda bidadari pa!”

Noni benar-benar takjub dengan hasil hiasan papa, sehingga memujinya sedemikian rupa.

“Ahhhh…. itu namanya berlebihan Noni, ini kan cuma hiasan biasa, belum juga selesai.”

“Belum selesai aja udah begini cantiknya, gimana nanti kalau sudah benar-benar selesai pa.”

Ia terus saja memuji papanya, pujian yang tak biasa, bukan pula pujian yang sekdar cuma basa basi. Melainkan pujian tulus yang terlontar dari lubuk hati seorang anak kepada ayahnya. Dengan maksud ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tinggi nya atas upaya yang telah dilakukan ayahnya kepadanya, agar ia bangga.

“Ya sudah… sekarang kamu tidur sana, besok harus bangun pagi kan? ntar kesiangan bisa telat ikut lombanya. Biar papa selesaikan sepedamu ini, tinggal sedikit lagi kok”


“Siap… komandan!”

Kali ini Noni semangat kembali ke kamarnya. Sambil geleng-geleng kepala papa tergelak melihat tingkahnya yang bak seorang prajurit menerima instruksi dari atasannya. Sampai dikamar Noni langsung meloncat ke atas tepat tidur. Dan tak menunggu lama, iapun terlelap dengan bibir terus menyunggingkan senyum bahagia.

Advertisements
This entry was posted on January 22, 2014. Bookmark the permalink.