Archives

Unforgatble Moment Part 2

Meski masih mengantuk, subuh-subuh Noni sudah bangun. Ini memang udah jadi kebiasaannya, tak pernah bisa tidur dengan lelap bila keesokan harinya ada sebuah tanggung jawab yang menanti, takut terlambat bangun, begitu alasannya. Makanya, karena sudah subuh, Noni memutuskan untuk benar-benar bangun saja. Sayup – sayup terdengar suara kesibukan dari arah dapur, pertanda mama sudah duluan bangun untuk memulai aktivitas hari itu. Begitu membuka pintu kamar, mata Noni langsung tertumbuk pada sepeda mungil kesayangannya yang kini telah menjelma bak kereta kencana. Segera kantuknya hilang.

“Wooowwww….. papa benar-benar hebat! Aku jadi tidak mengenali sepedaku yang dulu”

Di usap-usapnya sepeda itu dengan rasa takjub sambil melusuri setiap lekukan hiasannya. Sepeda butut yang telah dihias dengan kertas pita berwarna warni itu kini benar – benar menjadi sungguh elok! Noni tenggelam dengan hayalannya, ia membayangkan dirinya mengendarai sepeda itu tampak bak seorang peri.

“Ayoooo…. buruan mandi Noni, nanti kamu terlambat.”

Suara mama membuyarkan hayalan Noni, ternyata mama sudah tahu kalau Noni sudah bangun.

“Iya ma…”

Noni segera menuju kamar mandi. Tapi begitu melewati kamar orang tuanya, sejenak ia pun mengintip ke dalam. Dilihatnya papa masih terlelap, tampak letih dan mengantuk sekali.

“Pasti papa capek dan ngantuk sekali, semalaman tidak tidur karena harus menghiasi sepedaku.”

Noni jadi iba, terbayang olehnya perjuangan papa yang rela tidak tidur semalaman demi harus menghiasi sepedanya. Noni yakin, yang dijadikan papa sebagai semangat ketika menghiasi sepedanya itu adalah agar supaya Noni bisa memenangkan lomba. Padahal papa pasti tahu, pesertanya tidak sedikit, dan kemungkinan juga banyak sepeda yang jauh lebih bagus dan indah dari sepeda miliknya. Dengan kata lain, tidak mudah untuk bisa memenangkan perlombaan itu karena saingannya begitu banyak! Tapi Noni tak gentar. Papa sudah berjuang sedemikian rupa untuk dirinya. Karenanya Noni yakin bahwa sepedanya bisa keluar jadi juara. Noni ingin membuat papanya bangga, dan membuktikan bahwa tak harus jadi orang kaya untuk bisa jadi juara lomba sepeda hias. Dia juga yakin, juri pasti tidak melihat dari mahal atau murahnya harga sepeda yang jadi peserta lomba itu, tapi melihat dari indah dan makna hiasannya.

“Aku mau cium papa dulu ah… sebelum mandi.”

Sambil berjingkat – jingkat Noni melangkah masuk ke dalam kamar, dan menciumi pipi papanya yang masih tertidur pulas.

“Makasih banyak ya pa, udah menghiasi sepedaku. Do’akan Noni juara ya pa… “

Sambil berbisik Noni menciumi papanya. Sesaat setelahnya Noni langsung menghambur ke kamar mandi. Dinginnya udara pagi itu tak dihiraukannya, yang terasa hanya kesegaran mengalir ke sekujur tubuh. Noni serasa mendapatkan energi baru untuk mengikuti lomba pawai sepeda hias yang sebentar lagi akan di ikutinya. Segera khayalannya kembali melambung. Ia membayangkan setiap pasang mata takjub melihatnya mengendarai sepeda yang bak sebuah kereta kencana. Bahkan mata para juri pun nyaris tak berkedip memandanginya. Sepanjang lintasan yang menjadi rute pawai sepeda hias itu, tak henti-hentinya ia melemparkan senyum terbaiknya kepada semua penonton yang berdiri berjejer di pinggir jalan, sambil tak lupa melambaikan tangan. Sungguh bak seorang puteri raja lagaknya.

“Pokoknya aku harus jadi juara, aku harus memenangkan perlombaan itu. Aku ingin membuat papa bangga, supaya jerih payah papa semalaman menghiasi sepedaku tidak menjadi sia – sia.”

Noni menanmkan Tekad dalam hatinya.
Mengenakan gaun berenda warna putih, Noni siap berangkat menuju arena lomba. Segera ia meraih sepedanya. Sempat di liriknya jam dinding di ruang tamu, pukul 6 pagi. Masih sempat mampir untuk menjemput Nensi, teman sekelasnya yang juga ikut dalam lomba pawai sepeda hias itu. Sebenarnya Noni malas, tapi Noni sudah terlanjur janji. Kebetulan rumah Nensi juga tak begitu jauh dari rumahnya, dan arah untuk menuju arena lomba pawai juga mesti melewati rumah Nensi, mau tak mau Noni harus mampir menjemputnya.

“Mama mana ya?”

Noni mencari-cari sosok mama yang sejak sarapan tadi tak dilihatnya. Tak lama kemudian tampak mama tegopoh-gopoh muncul dari arah kamar belakang. Kamar dimana mama biasanya menyimpan benda – benda pusaka peninggalan almarhum kakek.

“Mama dari mana aja? Dari tadi Noni cariin, Noni mo pamitan nih ma, ntar telat lagi..”

Noni langsung memberondong mamanya.

“Mama tadi ke kamar belakang nyariin ini.”

Jawab mama sambil mengeluarkan sebuah kalung mutiara berwarna putih, indah sekali. Lalu mama segera memakaikan kalung itu ke leher Noni. Rasanya Noni kenal dan pernah melihat kalung itu, tapi dimana ya dia pernah melihatnya? Noni ingat! Ia pernah melihat mama memakai kalung itu di foto ulang tahun mamanya waktu masih gadis. Tapi foto itupun entah dimana sekarang. Mungkin ikut mama simpan bersama kalung itu.

“Ini kan kalung yang mama pakai di foto? Ternyata kalung ini masih ada? Mengapa mama tidak pernah memakainya? Padahal kalung ini kan cantik sekali ma.”

Kembali Noni memberondong mamanya.

“Iya… Tapi kalung ini memang sebaiknya disimpan saja. Kalung ini adalah hadiah ulang tahun dari almarhum kakek mu untuk mama, waktu itu mama berulang tahun yang ke – 17. Sejak kakekmu meninggal, mama jadi enggan memakai kalung ini. Karena bikin mama terus teringat kakekmu kalau memakainya. Makanya mama simpan saja sebagai kenang – kenangan, kalau sedang rindu sama kakekmu baru mama keluarkan, sekedar untuk mama pandangi saja.”

Ku lihat mata mama sedikit berkaca, pasti mama jadi teringat sama almarhum kakek. Ya, meski tak sempat bertemu dengan kakek, karena kakek meninggal saat mama masih gadis dan belum menikah dengan papa, tapi aku tahu kalau mama dan kakek sangat dekat. Kakek sangat sayang sama mama, begitu juga sebaliknya, mama sangat mencintai kakek. Dan dari cerita yang ku dapat dari nenek, mama memang sangat terpukul dengan kepergian kakek. Kasihan mama, pasti beliau sangat kehilangan.

“Sekarang kamu pakai kalung ini ya, biar kamu jadi tambah cantik di atas sepedamu yang indah ini.”

Ujar mama sambil mencoba untuk tersenyum. Baru sekarang mama bercerita tentang kisah kalung itu, mungkin pertanda kalau mama menganggap Noni sudah cukup besar untuk mengetahui kisah nya.

“Nah… sudah, benar kan kata mama, kamu jadi tambah cantik dan anggun dengan kalung ini Noni.”

Mata mama tampak berbinar-binar memandangi Noni usai mengenakan kalung mutiara itu. Noni juga merasakan apa yang dikatakan mamanya. Dan Noni pun tersenyum lebar, sumringah dibuatnya.

“Kalau begitu Noni pamit dulu ya ma, nanti kesiangan.”

Noni pamit dengan mencium tangan mama.

“Hati-hati ya nak, jaga kalung ini baik-baik, jangan sampai hilang.”

Pesan mama.

“Iya ma.”

Noni bergegas membuka pintu pagar, dan sambil melambaikan tangan ke arah mama ia pun mengayuh sepeda kencananya, melaju menuju arena lomba dengan bahagia. Noni memang tak sempat berpamitan dengan papa, karena hingga dia berangkat tadi, papanya masih tidur. Tapi tadi ia sudah menyempatkan diri mengucapkan terima kasih dengan mencium papanya.

“Biarlah papa istirahat saja dulu, toh hari ini juga hari minggu, papa kan libur. Biar nanti sekalian saja aku pulang dengan membawa kejutan untuk papa.”

Tekad Noni dalam hati.

CIMG2174

Advertisements
This entry was posted on January 22, 2014.

Unforgatable Moment Part 1

Malam itu Noni benar-benar tak bisa memejamkan matanya sepicing pun! Dia gelisah, tak sabar menunggu pagi. Pun tak sabar ingin segera melihat seperti apa papanya menyulap sepeda kesayangannya untuk dia tampil dalam lomba sepeda hias besok pagi. Noni tak tahu entah sudah pukul berapa saat itu, yang ia tau pasti sudah sangat larut. Dilihatnya lampu petromak di ruang keluarga masih menyala, karena cahayanya yang masih terang benderang itu menembus lubang-lubang kecil di dinding kamarnya, pertanda papanya masih terus bekerja menghiasi sepedanya. Ingin ia mengintip, tapi urung dilakukannya. Dia ingin, menyaksikan sepeda kesayangannya sudah terhias dengan indah besok pagi, adalah sebuah kejutan baginya.

“Hhhhhh….”
Continue reading

This entry was posted on January 22, 2014.